Ibadah Tidak Sesuai Sunnah Akan Tertolak
Kita meyakini bahwa petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara muhdats (perkara-perkara
baru dalam agama tanpa berdasar dalil). Dan setiap perkara muhdats
dalam Islam yang tidak sesuai dengan sunnah akan tertolak. Adapun amal
ibadah yang paling disenangi oleh Allah adalah yang paling ikhlash dan
paling shawab/benar (sesuai dengan tuntunan Rasulullah).
Allah Ta'ala berfirman,
فَإِنْ
لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Maka
jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya
mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang
lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak
mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Qashash: 50)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa saja yang membuat perkara baru yang tidak ada tuntunanya dalam agama kami, maka amalannya tertolak.” (HR. Al-Bukhari: 2697)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah
kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa' rasyidin yang datang
sesudahku. Gigitlah ia dengan gerahammu. Jauhilah oleh kalian
perkara-perkara yang muhdats (perkara baru dalam urusan dien), karena
seburuk-buruk urusan dalam dien adalah yang muhdats. Dan setiap perkara
baru dalam dien adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)
Ikhlash dan benar yang menjadi syarat diterimanya amal ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barang
siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang
pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110) Maksudnya hendaknya beramal dengan ikhlas untuk Allah dan benar sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Keduanya merupakan rukun amal yang diterima, yaitu ikhlas dan benar.
Allah Ta'ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2) amal terbaik adalah yang paling ikhlash dan paling shawab/benar.
Sedangkan orang yang beribadah tanpa disertai dua syarat di atas, maka ibadahnya akan tertolak. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah
berkata, "Beramal tanpa ikhlas dan mengikuti Sunnah laksana musafir
yang memenuhi tempat minumnya dengan pasir, sangat memberatkannya dan
tidak memberinya manfaat." (PurWD/voa-islam.com)
- See more
at:
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2010/06/07/6850/prinsip-islam-41-ibadah-tidak-sesuai-sunnah-akan-tertolak/#sthash.Kw9MJC14.dpufIbadah Tidak Sesuai Sunnah Akan Tertolak
Kita meyakini bahwa petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara muhdats (perkara-perkara
baru dalam agama tanpa berdasar dalil). Dan setiap perkara muhdats
dalam Islam yang tidak sesuai dengan sunnah akan tertolak. Adapun amal
ibadah yang paling disenangi oleh Allah adalah yang paling ikhlash dan
paling shawab/benar (sesuai dengan tuntunan Rasulullah).
Allah Ta'ala berfirman,
فَإِنْ
لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Maka
jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya
mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang
lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak
mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Qashash: 50)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa saja yang membuat perkara baru yang tidak ada tuntunanya dalam agama kami, maka amalannya tertolak.” (HR. Al-Bukhari: 2697)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah
kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa' rasyidin yang datang
sesudahku. Gigitlah ia dengan gerahammu. Jauhilah oleh kalian
perkara-perkara yang muhdats (perkara baru dalam urusan dien), karena
seburuk-buruk urusan dalam dien adalah yang muhdats. Dan setiap perkara
baru dalam dien adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)
Ikhlash dan benar yang menjadi syarat diterimanya amal ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barang
siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang
pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110) Maksudnya hendaknya beramal dengan ikhlas untuk Allah dan benar sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Keduanya merupakan rukun amal yang diterima, yaitu ikhlas dan benar.
Allah Ta'ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2) amal terbaik adalah yang paling ikhlash dan paling shawab/benar.
Sedangkan orang yang beribadah tanpa disertai dua syarat di atas, maka ibadahnya akan tertolak. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah
berkata, "Beramal tanpa ikhlas dan mengikuti Sunnah laksana musafir
yang memenuhi tempat minumnya dengan pasir, sangat memberatkannya dan
tidak memberinya manfaat." (PurWD/voa-islam.com)
- See more
at:
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2010/06/07/6850/prinsip-islam-41-ibadah-tidak-sesuai-sunnah-akan-tertolak/#sthash.Kw9MJC14.dpuf
Ibadah Tidak Sesuai Sunnah
Akan Tertolak
Kita
meyakini bahwa petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wasallam. Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara muhdats
(perkara-perkara baru dalam agama tanpa berdasar dalil). Dan setiap perkara
muhdats dalam Islam yang tidak sesuai dengan sunnah akan tertolak. Adapun amal
ibadah yang paling disenangi oleh Allah adalah yang paling ikhlash dan paling
shawab/benar (sesuai dengan tuntunan Rasulullah).
Allah Ta'ala
berfirman,
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ
فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ
هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ
"Maka
jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka
hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat
daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari
Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang dzalim." (QS. Al-Qashash: 50)
Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا
مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa
saja yang membuat perkara baru yang tidak ada tuntunanya dalam agama kami, maka
amalannya tertolak.” (HR. Al-Bukhari: 2697)
Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan
sunnah khulafa' rasyidin yang datang sesudahku. Gigitlah ia dengan gerahammu.
Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang muhdats (perkara baru dalam urusan
dien), karena seburuk-buruk urusan dalam dien adalah yang muhdats. Dan setiap
perkara baru dalam dien adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan."
(HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)
Ikhlash dan
benar yang menjadi syarat diterimanya amal ditunjukkan oleh firman Allah
Ta'ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ
فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barang
siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal
yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada
Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110) Maksudnya hendaknya beramal dengan
ikhlas untuk Allah dan benar sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam. Keduanya merupakan rukun amal yang diterima, yaitu ikhlas
dan benar.
Allah Ta'ala
berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ
وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang
lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2) amal terbaik adalah yang paling
ikhlash dan paling shawab/benar.
Sedangkan
orang yang beribadah tanpa disertai dua syarat di atas, maka ibadahnya akan
tertolak. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, "Beramal tanpa
ikhlas dan mengikuti Sunnah laksana musafir yang memenuhi tempat minumnya
dengan pasir, sangat memberatkannya dan tidak memberinya manfaat."
(PurWD/voa-islam.com)
Ibadah Tidak Sesuai Sunnah Akan Tertolak
Kita meyakini bahwa petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara muhdats (perkara-perkara
baru dalam agama tanpa berdasar dalil). Dan setiap perkara muhdats
dalam Islam yang tidak sesuai dengan sunnah akan tertolak. Adapun amal
ibadah yang paling disenangi oleh Allah adalah yang paling ikhlash dan
paling shawab/benar (sesuai dengan tuntunan Rasulullah).
Allah Ta'ala berfirman,
فَإِنْ
لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Maka
jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya
mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang
lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak
mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Qashash: 50)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa saja yang membuat perkara baru yang tidak ada tuntunanya dalam agama kami, maka amalannya tertolak.” (HR. Al-Bukhari: 2697)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah
kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa' rasyidin yang datang
sesudahku. Gigitlah ia dengan gerahammu. Jauhilah oleh kalian
perkara-perkara yang muhdats (perkara baru dalam urusan dien), karena
seburuk-buruk urusan dalam dien adalah yang muhdats. Dan setiap perkara
baru dalam dien adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)
Ikhlash dan benar yang menjadi syarat diterimanya amal ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barang
siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang
pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110) Maksudnya hendaknya beramal dengan ikhlas untuk Allah dan benar sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Keduanya merupakan rukun amal yang diterima, yaitu ikhlas dan benar.
Allah Ta'ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2) amal terbaik adalah yang paling ikhlash dan paling shawab/benar.
Sedangkan orang yang beribadah tanpa disertai dua syarat di atas, maka ibadahnya akan tertolak. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah
berkata, "Beramal tanpa ikhlas dan mengikuti Sunnah laksana musafir
yang memenuhi tempat minumnya dengan pasir, sangat memberatkannya dan
tidak memberinya manfaat." (PurWD/voa-islam.com)
- See more
at:
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2010/06/07/6850/prinsip-islam-41-ibadah-tidak-sesuai-sunnah-akan-tertolak/#sthash.Kw9MJC14.dpufIbadah Tidak Sesuai Sunnah Akan Tertolak
Kita meyakini bahwa petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara muhdats (perkara-perkara
baru dalam agama tanpa berdasar dalil). Dan setiap perkara muhdats
dalam Islam yang tidak sesuai dengan sunnah akan tertolak. Adapun amal
ibadah yang paling disenangi oleh Allah adalah yang paling ikhlash dan
paling shawab/benar (sesuai dengan tuntunan Rasulullah).
Allah Ta'ala berfirman,
فَإِنْ
لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Maka
jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya
mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang
lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak
mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Qashash: 50)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa saja yang membuat perkara baru yang tidak ada tuntunanya dalam agama kami, maka amalannya tertolak.” (HR. Al-Bukhari: 2697)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah
kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa' rasyidin yang datang
sesudahku. Gigitlah ia dengan gerahammu. Jauhilah oleh kalian
perkara-perkara yang muhdats (perkara baru dalam urusan dien), karena
seburuk-buruk urusan dalam dien adalah yang muhdats. Dan setiap perkara
baru dalam dien adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)
Ikhlash dan benar yang menjadi syarat diterimanya amal ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barang
siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang
pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110) Maksudnya hendaknya beramal dengan ikhlas untuk Allah dan benar sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Keduanya merupakan rukun amal yang diterima, yaitu ikhlas dan benar.
Allah Ta'ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2) amal terbaik adalah yang paling ikhlash dan paling shawab/benar.
Sedangkan orang yang beribadah tanpa disertai dua syarat di atas, maka ibadahnya akan tertolak. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah
berkata, "Beramal tanpa ikhlas dan mengikuti Sunnah laksana musafir
yang memenuhi tempat minumnya dengan pasir, sangat memberatkannya dan
tidak memberinya manfaat." (PurWD/voa-islam.com)
- See more
at:
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2010/06/07/6850/prinsip-islam-41-ibadah-tidak-sesuai-sunnah-akan-tertolak/#sthash.Kw9MJC14.dpufIbadah Tidak Sesuai Sunnah Akan Tertolak
Kita meyakini bahwa petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara muhdats (perkara-perkara
baru dalam agama tanpa berdasar dalil). Dan setiap perkara muhdats
dalam Islam yang tidak sesuai dengan sunnah akan tertolak. Adapun amal
ibadah yang paling disenangi oleh Allah adalah yang paling ikhlash dan
paling shawab/benar (sesuai dengan tuntunan Rasulullah).
Allah Ta'ala berfirman,
فَإِنْ
لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Maka
jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya
mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang
lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak
mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Qashash: 50)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa saja yang membuat perkara baru yang tidak ada tuntunanya dalam agama kami, maka amalannya tertolak.” (HR. Al-Bukhari: 2697)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah
kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa' rasyidin yang datang
sesudahku. Gigitlah ia dengan gerahammu. Jauhilah oleh kalian
perkara-perkara yang muhdats (perkara baru dalam urusan dien), karena
seburuk-buruk urusan dalam dien adalah yang muhdats. Dan setiap perkara
baru dalam dien adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)
Ikhlash dan benar yang menjadi syarat diterimanya amal ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barang
siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang
pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110) Maksudnya hendaknya beramal dengan ikhlas untuk Allah dan benar sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Keduanya merupakan rukun amal yang diterima, yaitu ikhlas dan benar.
Allah Ta'ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2) amal terbaik adalah yang paling ikhlash dan paling shawab/benar.
Sedangkan orang yang beribadah tanpa disertai dua syarat di atas, maka ibadahnya akan tertolak. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah
berkata, "Beramal tanpa ikhlas dan mengikuti Sunnah laksana musafir
yang memenuhi tempat minumnya dengan pasir, sangat memberatkannya dan
tidak memberinya manfaat." (PurWD/voa-islam.com)
- See more
at:
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2010/06/07/6850/prinsip-islam-41-ibadah-tidak-sesuai-sunnah-akan-tertolak/#sthash.Kw9MJC14.dpufIbadah Tidak Sesuai Sunnah Akan Tertolak
Kita meyakini bahwa petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara muhdats (perkara-perkara
baru dalam agama tanpa berdasar dalil). Dan setiap perkara muhdats
dalam Islam yang tidak sesuai dengan sunnah akan tertolak. Adapun amal
ibadah yang paling disenangi oleh Allah adalah yang paling ikhlash dan
paling shawab/benar (sesuai dengan tuntunan Rasulullah).
Allah Ta'ala berfirman,
فَإِنْ
لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Maka
jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya
mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang
lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak
mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Qashash: 50)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa saja yang membuat perkara baru yang tidak ada tuntunanya dalam agama kami, maka amalannya tertolak.” (HR. Al-Bukhari: 2697)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah
kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa' rasyidin yang datang
sesudahku. Gigitlah ia dengan gerahammu. Jauhilah oleh kalian
perkara-perkara yang muhdats (perkara baru dalam urusan dien), karena
seburuk-buruk urusan dalam dien adalah yang muhdats. Dan setiap perkara
baru dalam dien adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)
Ikhlash dan benar yang menjadi syarat diterimanya amal ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barang
siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang
pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110) Maksudnya hendaknya beramal dengan ikhlas untuk Allah dan benar sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Keduanya merupakan rukun amal yang diterima, yaitu ikhlas dan benar.
Allah Ta'ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2) amal terbaik adalah yang paling ikhlash dan paling shawab/benar.
Sedangkan orang yang beribadah tanpa disertai dua syarat di atas, maka ibadahnya akan tertolak. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah
berkata, "Beramal tanpa ikhlas dan mengikuti Sunnah laksana musafir
yang memenuhi tempat minumnya dengan pasir, sangat memberatkannya dan
tidak memberinya manfaat." (PurWD/voa-islam.com)
- See more
at:
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2010/06/07/6850/prinsip-islam-41-ibadah-tidak-sesuai-sunnah-akan-tertolak/#sthash.Kw9MJC14.dpufIbadah Tidak Sesuai Sunnah Akan Tertolak
Kita meyakini bahwa petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara muhdats (perkara-perkara
baru dalam agama tanpa berdasar dalil). Dan setiap perkara muhdats
dalam Islam yang tidak sesuai dengan sunnah akan tertolak. Adapun amal
ibadah yang paling disenangi oleh Allah adalah yang paling ikhlash dan
paling shawab/benar (sesuai dengan tuntunan Rasulullah).
Allah Ta'ala berfirman,
فَإِنْ
لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Maka
jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya
mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang
lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak
mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Qashash: 50)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Siapa saja yang membuat perkara baru yang tidak ada tuntunanya dalam agama kami, maka amalannya tertolak.” (HR. Al-Bukhari: 2697)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah
kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa' rasyidin yang datang
sesudahku. Gigitlah ia dengan gerahammu. Jauhilah oleh kalian
perkara-perkara yang muhdats (perkara baru dalam urusan dien), karena
seburuk-buruk urusan dalam dien adalah yang muhdats. Dan setiap perkara
baru dalam dien adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)
Ikhlash dan benar yang menjadi syarat diterimanya amal ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barang
siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang
pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110) Maksudnya hendaknya beramal dengan ikhlas untuk Allah dan benar sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Keduanya merupakan rukun amal yang diterima, yaitu ikhlas dan benar.
Allah Ta'ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2) amal terbaik adalah yang paling ikhlash dan paling shawab/benar.
Sedangkan orang yang beribadah tanpa disertai dua syarat di atas, maka ibadahnya akan tertolak. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah
berkata, "Beramal tanpa ikhlas dan mengikuti Sunnah laksana musafir
yang memenuhi tempat minumnya dengan pasir, sangat memberatkannya dan
tidak memberinya manfaat." (PurWD/voa-islam.com)
- See more
at:
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2010/06/07/6850/prinsip-islam-41-ibadah-tidak-sesuai-sunnah-akan-tertolak/#sthash.Kw9MJC14.dpuf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar